Halaman Awal

31 Mei 2026

Aku, Kota Daeng dan Kini

      (Dokumen Yahya Yabo)


Cerita ini tentang saya dan Makassar -Kota Daeng- sebagai julukannya. 2010 silam, saya masih menjadi mahasiswa di salah satu kampus swasta Makassar -kampus biru- yang terletak di Jalan Sultan Alauddin, Makassar.  

Makassar saat itu masih berbeda dengan Makassar saat ini. Itu akan saya ceritakan nanti.

Saat pertama kali menginjakkan kaki di Kota Daeng. Masih belum mengenal siapa pun. Ya iyalah 'kan baru pertama kali datang.

Pertama kalinya juga saya menaiki pesawat. Terbang dari Bandar Udara (Bandara) Sepinggan, Balikpapan menuju Bandara Sultan Hasanuddin. Ke dua Bandara itu, sama-sama menyandang Bandara Internasional. Waktu itu Bandara Sultan Hasanuddin belum direnovasi. Seperti sekarang. Waktu itu, patung selamat datang di pintu masuk Bandara Sultan Hasanuddin belum terpampang patung Sang Sultan, si ayam jantan dari timur, Julukan Sultan Hasanuddin. Beberapa kali melewati transportasi udara, Bandara Sultan Hasanuddin terus berbenah. Hingga kini. Menjadi salah satu Bandara tersibuk di Indonesia. Dari Bandara, pintu masuk semua kalangan dari luar pulau Sulawesi, tentunya di Sulawesi Selatan. Ada juga pelabuhan pintu masuk dari luar melewati jalur laut. Pelabuhan Soekarno-Hatta namanya, di Jalan Nusantara, Makassar. Pelabuhan Soekarno-Hatta merupakan pelabuhan kelas utama di Indonesia. Tentu menjadi tersibuk sebagai pelabuhan kelas utama.

Dari ke dua pintu masuk ke pulau Sulawesi itu, masyarakat dapat melewatinya selain jalur darat.

Kemegahan Bandara Sultan Hasanuddin saat ini yang menjadi Bandara Internasional dan kesibukan pelabuhan Soekarno-Hatta menjadi kelebihan tersendiri dari Kota Makassar. Kota Makassar menjadi kota ke-5 sebagai kota Metropolitan di Indonesia tidak terlepas dari pembangunan dan kemajuan Kota Makassar. Adanya dua gerbang kedatangan yang dapat menghubungkan orang dari berbagai kalangan datang ke Kota Makassar dan menjadi keuntungan tersendiri bagi Kota Makassar.

Kota Makassar yang terkenal dengan makanan Coto’ Makassar sendiri memiliki empat etnis terbesar. Di antaranya Bugis, Makassar, Toraja dan Mandar. Namun masih banyak juga etnis dan suku lainnya yang bermukim di Kota Makassar. Baik untuk kepentingan bekerja maupun untuk menempuh pendidikan.

Makassar akan dikenal sebagai kota perlawanan. Ketika sang Sultan Hasanuddin dulunya yang tidak ingin tunduk pada VOC, kamar dagang dari Belanda atau dikenal sebagai penjajah.

Makassar terus tumbuh dengan berbagai fasilitas, sarana dan prasarananya. Jalan-jalan bertambah lebar dan luas.


Seperti saat saya masih kuliah, jalanan saat ini berbeda. Kendaraan yang sering menjadi tumpangan yakni pete-pete’ – nama angkutan kota di Makassar- menjadi favorit saya saat melakukan aktivitas. Keadaan jalanan pun sering macet. Karena padatnya warga penduduk Kota Makassar.

Perkembangan yang paling terlihat yakni pembaruan jalan menuju Bandara yang dibuat semakin elok. Hingga menghindari kemacaten yang dibuat terowongan untuk jalan lintas kota dan jalur lainnya untuk masuk ke Bandara.


Sama halnya dengan perkembangan di Jalan A.P Pettarani. Di jalan ini telah ada jalanan tingkat. Jalan bagian atasnya diperuntukkan untuk jalan masuk area tol dalam kota. Saat saya masih kuliah, medio 2010-2015, jalan tol dalam kota belum terlihat. Ketika saya melakukan perjalanan ke Makasar pada tahun 2022 lalu, jalanan terlihat megah. Beton jalanan berdiri tegak sepanjang Jalan A.P Pettarani menuju ujung Jalan Perintis yang melewati atas jalan Fly Over (jembatan layang) hingga masuk ke tol.


Saya hanya tercengang dengan pesatnya perkembangan Kota Makassar dalam kurun waktu 10 tahun terakhir. Itu juga mungkin yang menjadi kontribusi masyarakat dalam membangun kota dengan membayar pajak. Semua fasilitas itu, dibangun menggunakan pajak dari masyarakat. Tentunya yang taat bayar pajak.


Dari sisi destinasi wisata. Kota Makassar kini telah merenovasi Pantai Losari yang menjadi ikon destinasi wisata utama Kota Makassar. Di pesisir ini, ada Centre Point of Indonesia (CPI) yang dapat dikunjungi dengan destinasi wisata religi ke Masjid 99 Kubah Makassar. Masjid yang didesain dan sebuah karya oleh Ridwan Kamil pada tahun 2016-2017. Dirinya saat itu menjabat Gubernur Jawa Barat periode 2018-2023.


Di sisi olahraga, salah satu stadion yang terkenal di Makassar, stadion Andi Mattallatta nyatanya hingga kini masih dalam tahap renovasi. Pasca Gubernur Sulsel sebelumnya disangkakan korupsi, pembangunan stadion kini terbengkalai. Berita terakhir lanjutan pembangunan masih sulit direalisasikan. Mungkin banyak faktor, teruma kesediaan anggaran.


Megahnya pembangunan kota yang begitu pesat kini terlihat nyata. Ada juga beberapa ruang publik yang megah. Namun masih saja ada orang yang tinggal di jalanan atau tuna wisma di Makassar. Ini mungkin yang belum tersentuh dan dilihat pemerintah terkait atau pejabat setempat.  


Banyaknya penduduk yang tinggal dan mendiami Kota Makassar tidak luput dengan angka kriminal yang tinggi. Setiap hari ada saja berita dari Makassar terkait krinimal. Mengenai begallah, terkait pencurian, korban pembunuhan, kekerasan anak dan perempuan hingga korban pelecehan seksual di ruang belajar atau kampus-kampus.


Segala daya tarik Kota Makassar menjelma menjadi impian-impian bagi seseorang yang menginginkan tinggal di Kota Metropolitan. Buaian kehidupan yang megah, indah, dan serba berkecukupan di kota membuat orang-orang meniggalkan desa untuk mendatangi kota. Impian pekerjaan yang didambakan, kadang membuat orang terlena datang ke kota. Namun tidak diimbangi dengan keterampilan yang memadai. Alhasil, banyak orang yang tidak mendapatkan pekerjaan dambaan tapi harus terus ‘survive, hidup di kota besar.


Kota yang menjelma menjadi peradaban di ibu kota Provinsi Sulawesi Selatan. Segalanya ada. Dari permasalahan macet hingga megah-megahnya pembangunan Kota Makassar. Saya masih kagum dengan situasi dan budaya di Kota Makassar yang menjadi budaya besar. Itu terlihat dari semangat perlawanan yang terlihat pada sejarah terdahulu, anti penjajahan.


Kota Makassar tetaplah kota yang akan menjadi bagian dari perkembangan Indonesia. Menjadi kota di tengah-tengah Indonesia yang terus tumbuh dan berkembang. Menjadi pesaing kota-kota besar di antara kota di Indonesia. Hingga nantinya Kota Makassar menjadi kota Maju dan juga Indonesia telah menjadi negara maju di antara negara-negara di dunia.


Kota yang terus tumbuh. Menerima semua kalangan entitas baik suku, agama dan antar golongan. Dalam perbedaaan yang ada di Kota Makassar memberikan arti keberagaman Indonesia. Saya masih akan selalu berkunjung ke Kota Makassar di waktu luang. Banyak arti dari Kota Makassar bagi saya sendiri. Hingga akhirnya saya berada dititik pengetahuan yang saya jalani saat ini. Makassar tetaplah Kota Makassar yang menjadi kota impian bagi siapa saja.


(Ditulis 2024)



Biodata Penulis

Penulis bernama Yahya Yabo. Saat ini penulis berdomisi di Kota Bontang, Kaltim. Penulis saat ini aktif sebagai jurnalis media online lokal. Alumni 2015, pada jurusan Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, Universitas Muhammadiyah Makassar. Pernah aktif di lembaga kesenian Ikatan Pemerhati Seni dan Sastra (IPASS). Penulis juga memiliki kualifikasi Wartawan Muda sejak 2021 dan Wartawan Madya 2024.

Selain aktif menulis di media lokal, Ia sering membuat tulisan opini mengenai permasalahan yang ada. Tulisan pertamanya yang dibukukan bersama rekan-rekannya yakni antologi puisi 2020 dengan judul buku ‘Sajak di Balik Pintu’. Dua tulisannya termuat dengan judul puisi ‘Sajak di Balik Pintu 2 dan Duka, Asa dan Dirimu’. Selanjutnya karya penulis juga dimasukkan dalam antologi puisi dengan judul buku 'Minyak Goreng Memanggil', 2022.

Pada 2024, penulis menerbitkan buku sendiri dengan karya tulisan yang pernah dimuat di media massa baik cetak maupun elektonik dan online yang dikumpulkan dari 2015 hingga 2022. Diterbitkan oleh Eja Publishing dengan judul buku 'Tulisan dan Suara-suara.


Penulis dapat dihubungi melalui surat elektronik, Email: yahyayabo2014@gmail.com atau bisa diajak bercengkrama di media sosial Instagram @yahyayabo14. Salam.



 

Sering Dibaca