Halaman Awal

Tampilkan postingan dengan label Biografi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Biografi. Tampilkan semua postingan

05 Maret 2023

Cerita Minggu Satu

Masjid Darul Irsyad Al-Muhajirin, sore hari 17.15 Wita. Orang-orang datang menikmati sore. Bersama, keluarga, anak, teman. Siapa pun yang bersama mereka.

Suasana sore itu cerah. Langit biru indah dengan cahaya senja berkilau di ujung barat. Angin berhembus sepoi. Dengan kicau burung sesekali.

Masjid yang berada di atas laut. Laut terlihat tenang dengan desiran ombak. Empat kapal bersandar. Salah satunya bertulis KM Anugrah Mulia Setia. Entah kapal-kapal itu telah usai berlayar atau masih bersandar menunggu waktu berlayar kembali.

Terlihat ada beberapa orang memancing. Memasang umpan. Seseorang entah sudah berapa lama menunggu umpan disambar ikan. Sore makin berlarut.

Terlihat suasana makin ramai. Deretan motor terparkir. Sesekali menengok sekeling.

Ada penjual ‘pentol’ bakar, penjual somai, penjual batagor dan abang-abang odong-odong. Mereka yang dianggap berhasil memajukan UMKM. Saat situasi ekonomi anjlok ketika pandemi Covid-19 hingga tahun berlangsung.

Sore kian berlarut. Sudah 30 menit lebih menikmati sore di depan masjid. Kian ramai orang berdatangan. Setelah diresmikan pada tahun 2022 lalu. Masjid itu menjadi ikon. Orang-orang menyebutnya ikon masjid terapung di atas laut. Jadi destinasi wisata. Dikunjungi warga. Namun hingga kini masih belum terlihat kekuatan destinasinya. Tapi terlihat orang menikmati kunjungannya.

Suara keramaian kian bertambah. Orang masih sibuk nikmati suasana. Ada yang berselfi ria, menikmati beberapa jajanan. Hingga menikmati terbenamnya matahari sebagai pertanda batas hari antara sore dan malam.

Di antara batas hari itu, ada pesona langit yang indah. Orang-orang menyebutnya senja.

Gelap akan menjama. Orang-orang kembali pulang. Masjid juga akan mengumandangkan azan. Panggilan Ilahi pada manusia.

Aku bergegas pulang. Tidak ada kata. Semua juga akan kembali pulang. Pada akhirnya.

Ini cerita Minggu pertama. Kalau ada waktu, akan ada cerita Minggu lainnya juga di tempat berbeda. Aku akhiri ceritanya. Pada pukul 17.53 Wita. See you.

#CeritaMingguSatu

 

23 Desember 2022

Aku Lupa Waktu dalam Dunia Maya

Aku Yahya Yabo. Keseharianku menjadi Jurnalis di media lokal Bontang, Kalimantan Timur. Pastinya akan selalu membutuhkan gawai dan internet. Gawai dan internet bagi jurnalis itu suatu kebutuhan. Sama seperti fungsi pakaian yang dibutuhkan jurnalis.

Setiap hari harus mencari berita, ‘update’ berita, menulis berita hingga membutuhkan internet untuk menuntaskan pekerjaan.

Dalam keseharian, aku tidak begitu ‘romantis’. Hanya seperti orang lain pada umumnya. Menggunakan internet pada umumnya.

Disela kesibukan sebagai jurnalis. Pasti ada waktu untuk menikmati waktu sendiri. Hanya sendiri namun ditemani gawai. Berselancar di dunia maya. Gawai yang juga digunakan sebagai alat kerja.

Aku sering menggunakan Youtube dan Instagram untuk berselancar di dunia maya. Mencari informasi maupun untuk hiburan pribadi. Tak kala sudah berada di dunia maya, aku sering lupa waktu. Berselancar sendiri, jauh masuk ke dunia orang lain. Melihat sisi internet yang begitu luas.

Dari internet, informasi tak dapat dibendung. Begitu banyak kabar. Dari kabar yang memang benar hingga kabar bohong atau hoaks. Terkadang kabar fitnah juga ada. Itulah internet.

Tapi dari situ, masyarakat harus jeli. Menerima informasi dan kabar sehingga tidak menerima kabar hoaks. Hoaks bisa mengenai siapa saja, tanpa pandang usia. Bahkan, para elit pun bisa terkena kabar hoaks. Seperti beberapa waktu lalu. Ketika kebohongan mengenai pemukulan salah satu aktris senior padahal melakukan operasi plastik.

Kembali ke aktivitasku. Dari ke dua media sosial itu, aku sering melupakan waktu saat berselancar di dunia maya. Mencari hiburan di sana rasanya seperti ‘candu’ yang membuat ketagihan. Sayangnya, kadang aku tidak bisa mengontrol keadaan itu. Terus saja terbuai di media sosial. Dari satu media sosial ke media sosial lainnya. Terbuai.

Tak jarang. Semua akses internet bisa diakses semua kalangan hingga anak-anak. Namun, di situ sisi ‘negatif’ internet. Akses yang memudahkan akan membuat yang mengaksesnya tidak mengenal batasan usia. Bisa mengakses apa saja.

Aku pun, masih terkadang melihat konten dewasa di media sosial, yang mungkin bisa diakses di bawah usia yang diperbolehkan.

Kalau dipikir, waktu kadang terbuang percuma untuk memuaskan hasrat bermedia sosial. Tapi, disitulah sisi kenikmatan internet. Melihat dunia hanya melalui gawai ukuran kecil. Di sudut ruang atau di kamar sendiri. Dengan keadaan apa pun, bisa menikmati internet.

Lupa waktu inilah yang aku sebut penyakit masa kini. Hingga mengabaikan semuanya. Baik pekerjaan pribadi maupun pekerjaan yang ada di rumah. Ingat saja, jangan sampai lupa waktu. Bagiku masih banyak yang bisa dilakukan tanpa terhubung internet.

Aku khawatir jika ini akan berlangsung lama. Kebiasaan yang bisa saja ‘mematikan’. Aku kadang bersalah sendiri. Tidak bisa membagi waktuku untuk kunikmati. Butuh waktu sendiri itu juga pentingkan.

Berikan coba solusinya padaku.?


Kunjungi juga - Aku, Jurnalis dan Kota Bontang

22 Juni 2022

Pergi ke Kota

    Jalanan Kota

Pergi ke Kota

Masih Juni 2022. Perjalanan kembali di mulai. Kali ini akan ke kota. Kota metropolitan, katanya. Kota Tempat dahulu aku berkuliah. 2010-2015. Kota dengan julukan untuk pahlawannya ‘ayam jantan dari timur’. Kota dengan bandara internasional tersibuk di timur Indonesia. Kota yang memiliki 3 Universitas Negeri besar. Banyak juga universitas swasta. Dan banyak cerita tentang kota itu. Jantung kota di Sulawesi.

Memulai perjalanan dari Barru. Ke arah selatan. Menggunakan motor roda dua. Sendiri lagi. Perjalanan akan menempuh waktu 3,5 jam. Beberapa jalan bagus. Ada juga yang masih rusak. Jalan poros.

Keperluanku mengunjungi keluarga sekaligus akan ada mengikuti kegiatan. Hanya kebetulan bertemu agenda itu. MIWF

Perjalanan darat dengan motor cukup nyaman. Hanya saja, kadang ada macet setelah memasuki kota. Ya, begitu kota besar.

Sampai di kota. Bergegas menuju rumah kerabat. Rumahnya dekat dengan terminal Daya. Terminal yang juga sibuk melayani kendaraan antar kota antar provinsi.

Kota yang begitu pesat tumbuh. Dengan segala perkembangan infrastrukturnya. Walau ada juga yang masih kurang. Seperti Stadion yang ada di kota yang masih mangkrak. Saat tulisan ini dibuat.

Kulihat kota makin pesat pembangunannya. Sekarang ada jalan tol layang di tengah kota. Di atasnya jalan layang flyover ujung jalan A.P Pettarani. Yang membentang di jalan tengah kota. 2015, saat itu belum ada.

Saat sedang berkeliling kota. Mengendarai motor. Menembus macet jalan. Tentu polusi kendaraan banyak. Dari kendaraan truk, angkutan kota atau orang di sini biasa menyebut ‘pete-pete’. Hari itu matahari siang menyengat. Saat aku berkeliling kota.

Beberapa kantor Instansi kulewati. Kodam XIV Hasanuddin. Universitas Hasanuddin. Kantor pimpinan wilayah Nahldatul Ulama. Kantor Gubernur. Kantor DPRD. Universitas UIN Alauddin. Universitas Negeri Makassar (UNM). Dan tentunya Unismuh, Almamaterku. Tanam makam pahlawan panaikang. Dan juga gedung Graha Pena. Tempat beberapa media berkantor.

Jalan masih sibuk dengan aktifitasnya. Lalu lalang kendaraan. Jalan macet. Suara klakson terus menderu. Juga saling sahutan. Tentu bising. Di kota ini harus pintar bertahan hidup. Kulihat seorang pria di pinggir jalan. Sedang membuka tambah angin ban keliling. Bahkan semua pekerjaan ada di kota ini. Coba saja berkunjung. Pasti melihatnya.

Setelah beberapa saat mengelilingi sebagian jalan protokol kota. Tapi kota ini tidak bisa dikeliling seharian. Tidak seperti di Bontang. Kota Bontang bisa dikeliling dalam waktu satu hari. Coba saja mengelilinginya.

Kota yang begitu ramai. Tak pernah sepi. Begitu pun jalanan. Jalanan yang tak pernah tidur. Hingga pagi buta, dini hari.

Aku juga berencana mengunjungi teman. Teman bersama saat berkuliah. Teman diskusi. Tukar pendapat. Bahkan hingga debat bersama. Di ruang kelas. Dia sudah S2. Selesai 2018. Hingga bertemu. Masih sama, masih sering tukar pendapat. Sejalan.

Aku sampai di depan almamaterku. Duduk sendiri. Memerhatikan adik-adik mahasiswa lalu-lalang. Ada juga yang kulihat berkelompok. Mungkin sedang diskusi. Jalanan depan kampus masih ramai. Selalu. Jalanan itu yang sering dijadikan panggung terbuka aktivis kampus. Menahan mobil besar. Dijadikan panggung orasi.

Berkunjung ke kota ini mengingatkanku masa-masa kuliah. Kembali memori itu berputar di kepala. Kisah berkuliah. Berorganisasi. Banyak kenangan. Masa itu. Nostalgia. Aku terhanyut dengan ingatan-ingatan masa itu.

Magrib bertandang. Suara azan dikumandangkan muazin dari beberapa masjid. Terdengar jelas. Saling bersahut. Merdu. Aku harus pulang. Memori lama masa itu ikut kutinggalkan. Jika ingin menemui. Datang saja ke depan kampus almamaterku. Kampus biru. Mungkin memori itu tetap ada. Atau akan tetap ikut bersamaku. Bisa juga kutitipkan padamu.!

 

*selesai, Makassar, 22062022


Singgah ke sini: Catatan Perjalanan Kapal

Berkunjung juga ke sini: Seni Menanam Kacang


18 April 2022

Aku, Jurnalis dan Kota Bontang


Foto: Yahya Yabo

Juli 2021. Beberapa pekan ini dunia dihebohkan dengan berita dua Miliuner Amerika serikat sedang bersaing terbang ke luar angkasa dengan masing – masing perusahaan mereka. Yah, pasti kalia tahu. Dua Miliuner itu yakni Richard Branson dan Jeff Bezos. Richard Branson pendiri Virgin Galactic menggunakan pesawatnya untuk terbang ke luar angkasa pada Minggu 11/07/2021. Sementara Jeff Bezos melakukan penerbangan ke luar angkasnya pada Selasa, 20/07/2021 dengan menggunakan pesawat New Shepard buatan perusahaan Blue Origin milik Jeff Bezos sendiri.

Juli 2021, Bontang. Kasus Covid-19 di Kota Bontang dalam pekan - pekan terus meningkat. Melihat dari data Satgas Covid-19 kota Bontang pada akhir-akhir bulan Juli 2021, 15 kelurahan yang ada di kota Bontang berada di zona merah. Dengan total lebih 9.439 kasus di Bontang dan angka kasus aktif sebanyak 1.879 kasus (per tanggal 22 Juli 2021). Berharap kasus Covid-19 tidak harus meningkat.

Kedua perisitiwa itu terjadi di bulan Juli. Aku bukan ingin menceritakan kedua hal itu. Pertama untuk kedua Miliuner itu yang terbang ke luar angkasa adalah bisnis mereka yang ingin ‘mempariwisatakan’ luar angkasa. Kedua mengenai kasus Covid-19, aku atau bahkan jurnalis lainnya ingin tidak ada lagi pemberitaan mengenai Covid-19. Harus usai. Atau Covid-19 sudah akan menjadi bagian dari kehidupan kita umat manusia.

Nah, di paragraf  ke empat ini, aku akan memulai menceritakan ceritaku bersama sebagai Junalis yang biasa orang juga kenal wartawan atau pemberi/penyampai informasi ke publik.

Sebelumnya, pada 2015 pertama kali aku menjadi jurnalis/wartawan media cetak. Mengenal teknik tulis-menulis dalam media sudah aku tahu sejak aku berkuliah. Aku menyelesaikan kuliah 2015. Desember 2015 aku bekerja di media cetak lokal Bontang, Bontang Post. Akhir tahun menuju 2016. Awal liputan ditugaskan mencari pernak – pernik Natal yang saat itu akan merayakan hari Raya Natal 2015.

Aku menjalani tugas liputan. Liputan seputar kota. Mencari berita unik, menarik dan dekat dengan masyarakat. Melihat permasalahan masyarakat. Keliling – keliling kota Bontang. Pernah aku lalui.

Suatu ketika, aku sudah berusaha mencari liputan. Seharian. Sudah susah payah. Berkeliling, tapi ide liputan belum muncul. Baru awal-awal tugas. Sampai di kantor. Waktu itu malam. Aku ditanya salah satu redaktur. ‘Mana beritamu hari ini’?  ku jawab ‘belum ada’. Kemudian dibalas ‘Ngapain kamu datang kalau nda ada beritamu’.

2016. Beberapa bulan menjalani tugas. Aku masih sering bingung. Suatu waktu ada liputan. Liputan besar waktu itu. Kejadian terbakarnya orang utan di Km 3, Kelurahan belimbing. Satu orang utan dewasa dan dua orang utan masih kecil mati terbakar. Aku ikut liputan. Langsung, di Tempat Kejadian Perkara. Berita kebakaran orang utan itu menjadi headline di media lokal. Masih beberapa media waktu itu di Bontang, juga belum banyak online. Beritanya pun bahkan menjadi berita nasional.

Beberapa bulan mengenyam di media cetak lokal. Ketika itu, aku masih tidak menyangka bisa bergabung dengan Tim hebat. Timnya dulu diberi nama Hunter. Ada aku dan satu laki-laki dan dua orang wanita tergabung dengan Tim.

Saat masih bersama Tim Hunter. Aku pernah ditugaskan liputan khusus. Liputan mengenai LGBT di Bontang. Liputan itu menjadi headline. Berkesan juga bagi aku. Liputan mendalam. Suatu masalah. Diberikan beberapa waktu menyelesaikan liputan. Mengenai Tim hunter, beberapa masih aktif di media, ada juga yang sudah tidak ada kabar selepas keluar dari media. Pertengah tahun istrahat.

2017-2018. Jeda dari media. Walau pun jeda, aku tetap menulis opini ke media. Beberapa dimuat. Pasti ada juga tidak.

Desember 2018. pertengahan Desember. Memulai kembali di media. Kali ini di media audio visual. Media Televisi lokal. PKTV. Ceritanya baru bermula. Menjadi Reporter. Ini juga mengenai awal liputan di media Televisi. Meliput perayaan hari keagamaan. Ketika itu, mendekati perayaan hari raya Natal 2018. Tugas dari kantor. Langsung meliput perayaan hari raya Natal di Gereja yang ada di Bontang. Malam Misa.

Sudah pasti malam itu, penjagaan gereja pasti lebih ketat dari hari biasanya. Para jemaat yang masuk gereja wajib diperiksa. Ada penjagaan. Polisi sigap dengan penjagaan alat deteksi logam. Semua diperiksa. Aku bersama senior reporter masuk juga diperiksa. Semua barang bawaan. Diperiksa menggunakan alat deteksi logam. Di depan pintu gereja. Saat itu detak denyut jantungku berdenyut kencang. Entah kenapa. Atau karena baru kali pertama aku memasuki Rumah ibadah orang lain, Gereja.

Aku masuk. Tetap dengan ‘deg-degan’. Dari depan hingga belakang ruangan, aku lihat bangku panjang yang menyamping terisi penuh. Aku mencari bangku yang kosong. Sebeleh kiri gedung terlihat satu bangku yang tidak diduduki. Aku duduk. Berbeda dengan yang lain. Tapi panitia kegiatan tetap mengenaliku.

Proses Misa berlangsung. Dari awal proses hingga selesai ku lihat. Aku hanya duduk. Tidak tahu harus melakukan apa. Hanya senior reporter yang mengambil gambar. Aku ditugaskan mewawancarai pendeta. Ini pertama kali aku masuk ke Gereja. Pada saat rangkaian Misa dan proses lainnya, di dalam hati aku mengingat.

Bagiku, tidak masalah. Hanya saja ini pengalaman pertamaku masuk rumah Ibadah agama lain. Menyaksikan secara langsung dari dalam. Aku seorang Muslim. Ini tugas. Tugas dari pekerjaan. Sebagai reporter.

Sebagai jurnalis/reporter harus siap. Siap ditugaskan dimana saja. Selagi mampu. Punya bekal. Punya identitas diri.

Awal 2020. Kasus covid-19 pertama yang tercatat di Indonesia terjadi di bulan Maret 2020. Dua orang yang terkonfirmasi kasus korona pertama yakni Ibu dan Anak. Dari kasus pertama itu, menyebar. Semakin banyak. Hingga kasus Covid-19 pengaruhi segala lini. Sosial, ekonomi, agama, pandangan, kebijakan hingga juga pengaruhi tugas – tugas sebagai jurnalis.

Awal – awal kasus meningkat di tahun itu, membuat semua panik, khawatir, saling menghindari jarak. Sebagai media televisi yang lebih mengedepankan Visual Audio. Pasti sulit. Bertemu langsung dengan narasumber tidak bisa dielakkan. Dengan siapa saja. Namun, pasti ada saja yang tidak ingin bertemu. Ini sering sulit bagi jurnalis televisi. Ketakutan narasumber bertemu orang di awal – awal pandemi Covid-19. Semuanya aku alami. Dijalani, dengan beberapa aturan – aturan baru. Dalam kehidupan. Harus memakai masker ketika keluar rumah, menjaga jarak dan tidak bersentuhan.

Juli 2021. Kota Bontang masih dalam status zona merah. Semua kelurahan. Termasuk Kelurahan tempat aku tinggal. Loktuan. Salah satu yang tertinggi.

Aku akhiri tulisan ini. Hanya sedikit cerita. Pengalaman. Merasakan langsung. Salam.  


Berkunjung Juga ke: Media Bukan Alat Pembuat Meriah  


*Ditulis pada 27 Juli 2021

26 Maret 2017

Twinda Rarasati: Si Cantik Kembar Doktertaiment - Biografi Singkat

Sumber Foto: IG:@Twindararasati












Twinda Rarasati: Si Cantik Kembar Doktertaiment.
Oleh: N Yahya Yabo
Memiliki dua profesi sangatlah tidak mudah bukan karena pekerjaaanya tetapi dalam hal mengatur waktu dalam bekerja. Ini juga yang dialami perempuan berdarah jawa ini. Dia bisa mengatur waktu dalam bekerja sebagai pembaca berita (News Anchor) dan sebagai dokter muda.

Nama lengkapnya Twinda Rarasati Sulaksito Pringgoredjo. Lahir 24 tahun silam. Twinda yang pernah mengenyam pendidikan di Universitas Pembangunan Veteran Jakarta pada Fakultas Kedokteran. Setelah menyelesaikan studinya di Fakultas Kedokteran tahun 2010 sampai 2014. Dara yang biasa dipanggil Inca ini pernah mengikuti ajang putra putri batik nusantara 2011. Dia berhasil masuk dalam 7 besar finalis serta berhasil menjadi pemenang favorit putra putri batik nusantara 2011 bersama Iqbal Nurman. Minatnya pada batik mengantarkanya menjadi juara favorit pada 2011. Selain juga menjadi favorit putri batik nusantara, dia juga dipilih sebagai putri pembatik terbaik putra putri nusantara 2011. Mempunyai adik kembaran bernama Twindy Rarasati Sulaksito Pringgoredjo dan mereka berdua lahir secara sesar.

Sering Dibaca