Halaman Awal

31 Mei 2026

Aku, Kota Daeng dan Kini

      (Dokumen Yahya Yabo)


Cerita ini tentang saya dan Makassar -Kota Daeng- sebagai julukannya. 2010 silam, saya masih menjadi mahasiswa di salah satu kampus swasta Makassar -kampus biru- yang terletak di Jalan Sultan Alauddin, Makassar.  

Makassar saat itu masih berbeda dengan Makassar saat ini. Itu akan saya ceritakan nanti.

Saat pertama kali menginjakkan kaki di Kota Daeng. Masih belum mengenal siapa pun. Ya iyalah 'kan baru pertama kali datang.

Pertama kalinya juga saya menaiki pesawat. Terbang dari Bandar Udara (Bandara) Sepinggan, Balikpapan menuju Bandara Sultan Hasanuddin. Ke dua Bandara itu, sama-sama menyandang Bandara Internasional. Waktu itu Bandara Sultan Hasanuddin belum direnovasi. Seperti sekarang. Waktu itu, patung selamat datang di pintu masuk Bandara Sultan Hasanuddin belum terpampang patung Sang Sultan, si ayam jantan dari timur, Julukan Sultan Hasanuddin. Beberapa kali melewati transportasi udara, Bandara Sultan Hasanuddin terus berbenah. Hingga kini. Menjadi salah satu Bandara tersibuk di Indonesia. Dari Bandara, pintu masuk semua kalangan dari luar pulau Sulawesi, tentunya di Sulawesi Selatan. Ada juga pelabuhan pintu masuk dari luar melewati jalur laut. Pelabuhan Soekarno-Hatta namanya, di Jalan Nusantara, Makassar. Pelabuhan Soekarno-Hatta merupakan pelabuhan kelas utama di Indonesia. Tentu menjadi tersibuk sebagai pelabuhan kelas utama.

Dari ke dua pintu masuk ke pulau Sulawesi itu, masyarakat dapat melewatinya selain jalur darat.

Kemegahan Bandara Sultan Hasanuddin saat ini yang menjadi Bandara Internasional dan kesibukan pelabuhan Soekarno-Hatta menjadi kelebihan tersendiri dari Kota Makassar. Kota Makassar menjadi kota ke-5 sebagai kota Metropolitan di Indonesia tidak terlepas dari pembangunan dan kemajuan Kota Makassar. Adanya dua gerbang kedatangan yang dapat menghubungkan orang dari berbagai kalangan datang ke Kota Makassar dan menjadi keuntungan tersendiri bagi Kota Makassar.

Kota Makassar yang terkenal dengan makanan Coto’ Makassar sendiri memiliki empat etnis terbesar. Di antaranya Bugis, Makassar, Toraja dan Mandar. Namun masih banyak juga etnis dan suku lainnya yang bermukim di Kota Makassar. Baik untuk kepentingan bekerja maupun untuk menempuh pendidikan.

Makassar akan dikenal sebagai kota perlawanan. Ketika sang Sultan Hasanuddin dulunya yang tidak ingin tunduk pada VOC, kamar dagang dari Belanda atau dikenal sebagai penjajah.

Makassar terus tumbuh dengan berbagai fasilitas, sarana dan prasarananya. Jalan-jalan bertambah lebar dan luas.


Seperti saat saya masih kuliah, jalanan saat ini berbeda. Kendaraan yang sering menjadi tumpangan yakni pete-pete’ – nama angkutan kota di Makassar- menjadi favorit saya saat melakukan aktivitas. Keadaan jalanan pun sering macet. Karena padatnya warga penduduk Kota Makassar.

Perkembangan yang paling terlihat yakni pembaruan jalan menuju Bandara yang dibuat semakin elok. Hingga menghindari kemacaten yang dibuat terowongan untuk jalan lintas kota dan jalur lainnya untuk masuk ke Bandara.


Sama halnya dengan perkembangan di Jalan A.P Pettarani. Di jalan ini telah ada jalanan tingkat. Jalan bagian atasnya diperuntukkan untuk jalan masuk area tol dalam kota. Saat saya masih kuliah, medio 2010-2015, jalan tol dalam kota belum terlihat. Ketika saya melakukan perjalanan ke Makasar pada tahun 2022 lalu, jalanan terlihat megah. Beton jalanan berdiri tegak sepanjang Jalan A.P Pettarani menuju ujung Jalan Perintis yang melewati atas jalan Fly Over (jembatan layang) hingga masuk ke tol.


Saya hanya tercengang dengan pesatnya perkembangan Kota Makassar dalam kurun waktu 10 tahun terakhir. Itu juga mungkin yang menjadi kontribusi masyarakat dalam membangun kota dengan membayar pajak. Semua fasilitas itu, dibangun menggunakan pajak dari masyarakat. Tentunya yang taat bayar pajak.


Dari sisi destinasi wisata. Kota Makassar kini telah merenovasi Pantai Losari yang menjadi ikon destinasi wisata utama Kota Makassar. Di pesisir ini, ada Centre Point of Indonesia (CPI) yang dapat dikunjungi dengan destinasi wisata religi ke Masjid 99 Kubah Makassar. Masjid yang didesain dan sebuah karya oleh Ridwan Kamil pada tahun 2016-2017. Dirinya saat itu menjabat Gubernur Jawa Barat periode 2018-2023.


Di sisi olahraga, salah satu stadion yang terkenal di Makassar, stadion Andi Mattallatta nyatanya hingga kini masih dalam tahap renovasi. Pasca Gubernur Sulsel sebelumnya disangkakan korupsi, pembangunan stadion kini terbengkalai. Berita terakhir lanjutan pembangunan masih sulit direalisasikan. Mungkin banyak faktor, teruma kesediaan anggaran.


Megahnya pembangunan kota yang begitu pesat kini terlihat nyata. Ada juga beberapa ruang publik yang megah. Namun masih saja ada orang yang tinggal di jalanan atau tuna wisma di Makassar. Ini mungkin yang belum tersentuh dan dilihat pemerintah terkait atau pejabat setempat.  


Banyaknya penduduk yang tinggal dan mendiami Kota Makassar tidak luput dengan angka kriminal yang tinggi. Setiap hari ada saja berita dari Makassar terkait krinimal. Mengenai begallah, terkait pencurian, korban pembunuhan, kekerasan anak dan perempuan hingga korban pelecehan seksual di ruang belajar atau kampus-kampus.


Segala daya tarik Kota Makassar menjelma menjadi impian-impian bagi seseorang yang menginginkan tinggal di Kota Metropolitan. Buaian kehidupan yang megah, indah, dan serba berkecukupan di kota membuat orang-orang meniggalkan desa untuk mendatangi kota. Impian pekerjaan yang didambakan, kadang membuat orang terlena datang ke kota. Namun tidak diimbangi dengan keterampilan yang memadai. Alhasil, banyak orang yang tidak mendapatkan pekerjaan dambaan tapi harus terus ‘survive, hidup di kota besar.


Kota yang menjelma menjadi peradaban di ibu kota Provinsi Sulawesi Selatan. Segalanya ada. Dari permasalahan macet hingga megah-megahnya pembangunan Kota Makassar. Saya masih kagum dengan situasi dan budaya di Kota Makassar yang menjadi budaya besar. Itu terlihat dari semangat perlawanan yang terlihat pada sejarah terdahulu, anti penjajahan.


Kota Makassar tetaplah kota yang akan menjadi bagian dari perkembangan Indonesia. Menjadi kota di tengah-tengah Indonesia yang terus tumbuh dan berkembang. Menjadi pesaing kota-kota besar di antara kota di Indonesia. Hingga nantinya Kota Makassar menjadi kota Maju dan juga Indonesia telah menjadi negara maju di antara negara-negara di dunia.


Kota yang terus tumbuh. Menerima semua kalangan entitas baik suku, agama dan antar golongan. Dalam perbedaaan yang ada di Kota Makassar memberikan arti keberagaman Indonesia. Saya masih akan selalu berkunjung ke Kota Makassar di waktu luang. Banyak arti dari Kota Makassar bagi saya sendiri. Hingga akhirnya saya berada dititik pengetahuan yang saya jalani saat ini. Makassar tetaplah Kota Makassar yang menjadi kota impian bagi siapa saja.


(Ditulis 2024)



Biodata Penulis

Penulis bernama Yahya Yabo. Saat ini penulis berdomisi di Kota Bontang, Kaltim. Penulis saat ini aktif sebagai jurnalis media online lokal. Alumni 2015, pada jurusan Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, Universitas Muhammadiyah Makassar. Pernah aktif di lembaga kesenian Ikatan Pemerhati Seni dan Sastra (IPASS). Penulis juga memiliki kualifikasi Wartawan Muda sejak 2021 dan Wartawan Madya 2024.

Selain aktif menulis di media lokal, Ia sering membuat tulisan opini mengenai permasalahan yang ada. Tulisan pertamanya yang dibukukan bersama rekan-rekannya yakni antologi puisi 2020 dengan judul buku ‘Sajak di Balik Pintu’. Dua tulisannya termuat dengan judul puisi ‘Sajak di Balik Pintu 2 dan Duka, Asa dan Dirimu’. Selanjutnya karya penulis juga dimasukkan dalam antologi puisi dengan judul buku 'Minyak Goreng Memanggil', 2022.

Pada 2024, penulis menerbitkan buku sendiri dengan karya tulisan yang pernah dimuat di media massa baik cetak maupun elektonik dan online yang dikumpulkan dari 2015 hingga 2022. Diterbitkan oleh Eja Publishing dengan judul buku 'Tulisan dan Suara-suara.


Penulis dapat dihubungi melalui surat elektronik, Email: yahyayabo2014@gmail.com atau bisa diajak bercengkrama di media sosial Instagram @yahyayabo14. Salam.



 

28 November 2025

Persalinan Kakakku, Buah Hati yang Ditunggu

        (Foto: Dokumen Yahya Yabo)


28 Juli 2025, jadwal yang telah ditetapkan dokter kandungan kakakku. Persalinannya telah ditentukan setelah Hari Perkiraan Lahir (HPL) pada 10 Agustus 2025. 


Saya bersama orang tua dan ipar sehari sebelumnya telah mengantarkan kakakku untuk masuk dalam perawatan sebelum persalinan. Rujukan dokter telah dipersiapkan, arahan untuk masuk dalam perawatan kamar bersalin dan kandungan. Pukul 17.00 WITA, kami mengantarnya ke rumah sakit. Rumah sakit yang tidak jauh dari tempat tinggal kami, cukup 10 menit perjalan dari rumah. Rumah sakit milik perusahaan yang umum digunakan masyarakat sekitar. RS PKT namanya.


Masuk dalam perawatan kamar 7 ruang edelwis, kakakku menjalani perawatan satu malam sebelum persalinannya. Kamar perawatan kapasitas dua orang, tapi kakakku masih sendiri dalam ruangan dengan ukuran 4x6 meter ditemani suaminya.


Pagi, esok harinya, pukul 07.30 WITA aku bersama keluarga kembali datang ke rumah sakit. Melihat kakakku yang akan melakukan persalinan. Dari arahan dokter, ia dianjurkan untuk melakukan operasi caesar atau sectio caesarea dengan berbagai pertimbangan keilmuan dokter dan kesepakatan kakakku.


Waktu menunjukkan 07.39 WITA, kakakku diantar ke ruang operasinya. Diantar perawat bersama suaminya dengan menggunakan bed (ranjang) pasien. Saya bersama orang tua turut mengantar ke ruang operasi hingga ke depan pintu kamar operasi. Ibu bapak bersalaman dengan kakakku. Saya terakhir ikut menyalami kakakku dan mencium tangannya sebelum masuk ruang operasi. Ruang operasi tidak boleh dimasuki selain petugas. Kami disuruh menunggu di luar, di ruang tunggu. Saya bersama keluarga ikut menunggu di luar ruangan. Ruangan tunggu luar disediakan tempat duduk dengan 13 kursi besi yang menjadi ciri khas rumah sakit. 


Sebelumnya, kakaku telah menanti kehamilannya hingga 9 tahun. Menikah dengan suaminya pada Februari 2016 lalu. Selama waktu itu pula, kakaku bersama suaminya terus mengupayakan bersama kehamilan yang dinanti sebagai anak pertama. Hingga akhirnya Desember 2024 kabar bahagia datang dari kakakku yang mengabarkan telah mengandung. Hati kami bahagia sekeluarga mendapat kabar dari kakakku. Penantian yang telah diupayakan dengan kebaikan. 



Pukul 09:15 WITA kakakku keluar ruang operasi. Setelah kami menunggu satu jam lebih. Tapi selesai operasi pukul 08.21 WITA, anak kakakku telah lahir. Perjuangan ibu yang melahirkan diibaratkan menaruhkan nyawa ibu dan keselamatan bayi 



Tangisan bayi pecah dalam ruang operasi, memecah sunyi yang sedari tadi bersama kami. Rasa syukur turut menjelma di kalbu kami bersama keluarga. Terlebih, kakakku dan suaminya yang telah menanti buah hati selama sembilan tahun. 



Alhamdulillah, bayi lahir, sehat dan selamat. Ibunya selamat dan sehat. Walau bekas operasi pasti masih terasa sakit. Bayi berat 3,3 kilogram, panjang 50 cm. Buah hati yang selama ini dinantikan telah lahir, kasih sayang dan cinta serta usaha dan doa turut menyertainya. Namanya Ahmad Zenith Mabarakka, keponakanku, putra pertama kakakku dan suaminya, Irmayanti dan Almisbah.


"Selamat datang nak, semoga menjadi anak yang soleh dan menjadi kebanggaan orang tua dan keluarga," tulisku di akhir tulisan. 




*Yahya Yabo, Paman dari Ahmad Zennit Mabarakka 

18 Januari 2025

Bukan Tulisan Kiri

(Foto Dukumen Yahya Yabo)

Bukan Tulisan Kiri

Aksi Kamisan. Pakaian Hitam, menggunakan payung hitam. Sekumpulan orang berdiri di depan kantor Gubernuran Kaltim. Pertama kali melihat aksi ini di Samarinda, Kaltim saat berkunjung ke Samarinda. Ada tema yang disuarakan kelompok ini. Dengan spanduk yang melintang terbentang. Satu persatu-satu setiap orang maju ke depan. Berbicara menyuarakan tema yang diangkat. Dari aktivis, masyarakat sipil, akademisi hingga korban yang ingin menyuarakan keadilan boleh bersuara. Sesuai tema yang dipilih. Tulisan besar di spanduk ‘Melawan Dari Mahakam’.

Aksi yang menyita perhatian publik telah sampai di Samarinda, Kaltim. Selalu digelar pada hari Kamis. Di Depan kantor Gubernur Kaltim atau orang-orang menyebutnya tepian Mahakam. Dari kelompok yang menggelar Aksi Kamisan Kaltim di Samarinda, terus membawa topik atau tema yang disesuaikan setiap pekannya. Aku melihatnya sangat unik.

             Pertama kali melihat Aksi Kamisan Kaltim dengan tema Tanjung Priok 84. Menggelar aksi pada 15 September 2022. Menyuarakan tragedi yang berlangsung pada tahun 1984. Membawa pesan solidaritas tanpa batas. Aksi sangat mengesankan. Membawakan tema yang sekolompok ini pun belum tentu bersentuhan langsung dengan tragedi pada masa itu. Atau bahkan yang ada di lokasi aksi kamisan belum tentu telah lahir. Sangat responsif terhadap isu yang terjadi sesuai dengan wakatunya. 

             Aksi dilakukan dengan memberikan kesempatan kepada peserta Aksi Kamisan Kaltim untuk mengungkapkan atau menyuarakan pemikirannya dengan topik yang diangkat. Menggunakan pengeras suara, beberapa orang bergantian maju ke depan untuk berorasi. Aku melihatnya sangat berkesan. Menyuarakan perjuangan korban tragedi.

             Sementara, aku mengetahui Aksi Kamisan di Jakarta melalui media dilakukan di depan Istana Merdeka dekat dengan Monas. Setiap hari Kamis. Aku baca, dimulai dari 18 Januari 2007. Aksi Kamisan di Jakarta juga selalu mengangkat tema pelanggaran Hak Asasi Manusia (HAM) yang dilakukan negara. Banyak yang ikut, menyuarakan ketidakadilan negara. Contoh saja, keluarga korban penghilangan di tahun 1998, keluarga Munir, keluarga tragedi Trisakti dan Semanggi dan masih banyak keluarga korban yang ikut secara sukarela dalam Aksi Kamisan di Jakarta. 

             Setiap pekan, setiap tahun peserta Aksi Kamisan terus saja bertambah. Terus banyak yang ikut berpartisipasi secara sukarela. Aksi sosial. Media-media juga terus memberitakan aksi yang digelar setiap hari Kamis dengan ciri khas payung hitam dan baju hitamnya. Aku melihatnya, aksi ini menjadi aksi masyarakat sipil yang peduli kepada peristiwa-peristiwa pelanggaran HAM yang terjadi di Indonesia. Semakin menjadi banyak, bahkan telah dilakukan di 58 titik se-Indonesia.

             Aksi Kamisan akan mencapai usia ke 18 tahun pada 18 Januari 2025 sejak dilaksanakan pertama kali di tahun 2007. Aksi Kamisan akan menjadi aksi solidaritas pertama di Indonesia yang terus membawakan dan menyuarakan tuntutan dari korban pelanggaran HAM. Bagaimana seharusnya pemerintah menyikapi pelanggaran HAM yang terjadi selama ini. Aksi Kamisan akan terus menjadi alarm bagi pemerintah Indonesia terkait kejadian-kejadian tregedi pelanggaran HAM. Para keluarga korban juga mendapat tempat untuk bersuara atas kejadian yang dialami korban pelanggaran HAM.

             Di sini, di Aksi Kamisan, keluarga korban terus ikut berpartisipasi dengan meminta pertanggungjawaban atas apa yang dialami korban. Aksi Kamisan memberikan ruang kepada semua orang untuk ikut andil dan berpartisipasi dalam aksi tanpa adanya sekat.  

             Namun, perlu dilihat Aksi Kamisan yang terus dilakukan ini dapat berdampak pada respon pemerintah. Seharusnya, ketika Aksi Kamisan berlangsung dapat juga diikuti oleh pihak pemerintah dan melakukan diskusi secara bersama apa yang diinginkan para keluarga korban.

             Dengan melihatnya banyaknya yang ikut andil dalam Aksi Kamisan ini, hingga ke daerah-daerah akan menjadi semangat masyarakat sipil dalam menyuarakan perlawanan dalam menuntut keadilan bagi keluarga korban pelanggaran HAM. Menjadi simbol perlawanan dari masyarakat sipil bawah. Semangat yang dibawa oleh Aksi Kamisan akan terus sejalan dengan tema atau topik yang diangkat setiap pekannya.

             Semangat Aksi Kamisan akan terus ada pada kelompok masyarakat sipil yang menjadi korban pelanggaran HAM. Seperti Aksi Kamisan yang digelar pada 26 September 2024, Aksi Kamisan yang ke-833 yang dilaksanakan di seberang Istana Merdeka, saat tulisan ini dibuat.

             Gerakan melalui Aksi Kamisan yang rutin diadakan ini dapat menjadi perlawanan bagi pemerintah. Selalu ada banyak topik yang dihadirkan dalam setiap Aksi Kamisan. Aku mengacungi ‘jempol’ kepada inisiator Aksi Kamisan yang hingga kini masih terus berjalan hingga bisa mencapai usia 18 tahun Aksi Kamisan dan ratusan Aksi Kamisan yang digelar secara sukarela bersama masyarakat sipil dan keluarga korban.

             Semangat yang terus dikobarkan, agar generasi selanjutnya dapat terus mendapatkan pengetahuan apa yang telah terjadi di masa lalu. Aksi Kamisan juga menjadi ‘arsip file’ dalam setiap kejadian pelanggaran HAM yang terus disuaran melalui Aksi Kamisan.

Aku juga terus mendukung Aksi Kamisan yang terus dilakukan dan memberikan ruang untuk kelompok masyarakat sipil dan keluarga korban untuk terus bersuara. Aksi Kamisan mendapat atensi masyarakat tidak terlepas dari andil media baik media arus utama maupun media alternatif atau media sosial. Aksi Kamisan yang dilakukan dapat diketahui dari jenis media. Paling banyak, Aksi Kamisan disampaikan melalui media alternatif seperti media sosial (youtube dan instagram) yang dapat dijangkau semua lapisan masyarakat dengan secara  gratis. Hingga pesan yang disampaikan dari Aksi Kamisan dapat tersampaikan kepada masyarakat.

             Aksi Kamisan akan terus menjadi semangat perlawanan yang terus tumbuh baik di Jakarta maupun di daerah lain di luar Jakarta. Aksi Kamisan menembus lapisan masyarakat sipil paling bawah dan terus berkobar untuk perlawanan.

             Aku melihatnya seperti itu. Nantinya, perlawanan ini akan terus ada dan terus tumbuh untuk memberikan kesadaran bagi masyarakat sipil lainnya yang memiliki hak dasar untuk dilindungi oleh negara. Bagaimana pun, negara menjadi  tempat perlidungan bagi  masyarakatnya. Namun, nyatanya masih banyak kasus-kasus yang terus terjadi yang melanggar HAM yang dilakukan negara. Melalui Aksi Kamisan inilah masyarakat sipil menyampaikan suara mereka untuk didengar pemerintah atau penguasa.

             Undang-undang juga telah mengatur mengenai hak masyarakat sipil untuk menyampaikan pendapat di muka umum atau secara terbuka tanpa melakukan kekerasan. Dan negara harus menjamin agar hak masyarakat dapat dijalankan tanpa diskriminasi. Ketika masyarakat dapat menyampaikan pendapat secara terbuka tanpa diskriminasi dari negara, maka di situ negara telah berhasil menjalankan fungsi negara dalam menjamin hak-hak warga negara.

             Dari masyarakat bawah, yang terus bergerak menyuarakan ketidakadilan hingga pelanggaran HAM yang dilakukan negara, Aksi Kamisan merambah ke berbagai kalangan dan memberikan kesadaran tersendiri atas apa yang telah negara perbuat bagi masyarakatnya. Cukup besar gerakan ini memberikan kesadaran kepada masyarakat sipil tanpa melihat latar belakang para peserta aksi.

             Walaupun aku belum pernah mengikuti Aksi Kamisan secara langsung baik di Jakarta maupun di Samarinda itu sendiri. Tapi aku yakin akan terus tumbuh pergerakan serupa baik di daerah yang memiliki masyarakat yang banyak maupun di daerah yang terpencil sekali pun. Itu juga yang mendorong untuk menulis tulisan ini. Tulisan berjudul ‘Bukan Tulisan Kiri’ ini hanya menceritakan bagian terkecil dari Aksi Kamisan yang akan terus dilakukan. Baik dari aktivis, akademisi, masyarakat sipil hingga jurnalis pro demokrasi terus ikut ambil bagian dalam gerakan Aksi Kamisan yang dilaksanakan secara sukarela.

              Apa yang dilakukan keluarga korban pelanggaran HAM ini melalui Aksi Kamisan memang masih jauh dari hasil yang diinginkan keluarga korban pelanggaran HAM. Tapi yakin dan percaya, suatu saat, ketika pemerintahan telah mengetahui substansi dari sebuah negara, maka hasilnya juga akan terlihat dengan penyelesaian pelanggaran HAM atau pengakuan dari pemerintah. Dari pejabat negara yang akan ‘melek’ pengetahuan mengenai pelanggaran HAM dan suara masyarakat sipil yang terus digaungkan melalui Aksi Kamisan yang akan terus berlangsung entah sampai kapan!

             Masyarakat sipil yang terus membantu dalam bergeraknya gerakan Aksi Kamisan ini di mana pun dilaksanakan akan menjadi tempat bernaung bagi siapa saja yang ingin ikut menyuarakan ketidakadilan dan pelanggaran HAM yang dilakukan negara. Tidak ada tempat bersolidaritas yang dilakukan secara sukarela selain Aksi Kamisan yang dapat diikuti oleh siapa pun. Mungkin aksi ini juga kerap mendapatkan tindakan kekerasan dari aparat, tapi itu juga tidak menghentikan langkah peserta Aksi Kamisan terus menggelar aksi hingga saat ini.

             Masyarakat sipil Indonesia sudah sepatutnya terus mendukung gerakan-gerakan Aksi Kamisan yang digelar setiap hari Kamis, di mana pun dilaksanakan. Itu juga akan menguatkan gerakan ini dan terus ada dalam menegakkan hak-hak masyarakat. Bentuk perlawanan yang paling baik yakni dengan melakukan aksi diam atau aksi damai (seperti Aksi Kamisan) yang secara serentak dilakukan di berbagai daerah. Menguatkan satu sama lain dan berdiri di pihak keluarga korban pelanggaran HAM.

Mari terus bersolidaritas mendukung gerakan Aksi Kamisan saat tidak ada lagi cara yang tepat untuk menyuarakan hak-hak tanpa adanya diskriminasi dalam menyuarakan kepentingan bersama. Terus tumbuh Aksi Kamisan hingga akan digelar ratusan, ribuan bahkan hingga jutaan Aksi Kamisan dengan bergantinya penguasa atau pemerintah. Dan juga kita menyuarakan setop pelanggaran HAM bagi masyarakat sipil sebagai warga negara Indonesia yang menganut sistem negara hukum. Aksi Kamisan ini akan tercatat dalam sejarah Indonesia bahwa di masa depan ada gerakan yang terus memperjuangkan hak-hak masyarakat. Termasuk tulisan kecil ini yang akan menjadi bukti dalam berpihak pada keluarga korban. Jadikan Aksi Kamisan sebagai bentuk perlawanan, menang atau kalah bukan menjadi hasil akhir. Tapi pengakuan atas hak dasar bagi warga negara Indonesia untuk tetap dilindungi secara bersama. Menjadikan Indonesia sebagai negara yang menjunjung asas keadilan dan hak asasi manusia, menjadi negara yang menghormati pilihan setiap warganya, menjadi negara yang terdepan dalam melindungi kebebasan berpikir dan berpendapat. Kita akan terus butuh wadah seperti Aksi Kamisan yang terus digelar. Masyarakat butuh keadilan, butuh perlindungan dari Negara. Sesuai dengan sila ke lima yang ada di Pancasila yang telah dibuat oleh pendiri bangsa Indonesia yakni ‘’Keadilan Sosial Bagi Seluruh Rakyat Indonesia”. Terus berjuang Aksi Kamisan dan terus berpihak pada masyarakat sipil yang menjadi korban dari kekerasan negara. Salam.


-Yahya Yabo-


Tulisan lainnya: Reformasi atau Repot-masih


Sering Dibaca